4 Cara Memberi Kepercayaan pada Anak

Posted on August 31, 2009. Filed under: artikel | Tags: , , , |

Ketika Anda dan suami harus bekerja, Anda harus meninggalkan anak-anak di rumah bersama pengasuhnya. Namun, Anda tentu tak akan selalu bisa mengendalikan apa yang dilakukan anak-anak. Apakah pengasuh memengaruhi mereka dalam hal tontonan, apakah teman-temannya memberikan contoh perilaku yang buruk, ataukah anak-anak bebas mengakses internet tanpa pengawasan. Tiba-tiba, Anda menyadari anak sudah menelan banyak informasi yang belum pantas untuknya, atau anak merahasiakan sesuatu dari Anda.

Maka, penting bagi Anda untuk menerapkan saling percaya antara orangtua dan anak. Dengan selalu bersikap terbuka pada anak, kita bisa berharap anak pun akan meniru sikap baik tersebut. Sebaliknya, Anda pun mampu menerima bahwa anak memiliki kepribadiannya sendiri. Ia berhak bergaul dan melahap informasi sebanyak-banyaknya. Yang menjadi masalah sekarang, bagaimana memberikan kepercayaan pada anak untuk melakukan aktivitasnya, dan tetap bergaul tanpa meniru hal-hal yang negatif dari lingkungannya? Tips berikut mungkin bisa membantu.

1. Selalu ada untuknya
Biasakan anak bercerita dan bicara tentang pengalamannya setiap hari. Tanyakan, apa saja yang dilakukannya di sekolah. Biarkan anak mengutarakan ide, perasaan, dan ketakutannya secara terbuka. Dengarkan, jangan menggurui. Berusahalah agar Anda selalu ada di di sisinya ketika ia membutuhkan. Dorong anak untuk mengutarakan perasaannya secara kreatif dengan membuat tulisan atau lewat gambar.

2. Konsisten
Ciptakan rutinitas yang jelas dan konsisten. Misalnya, kapan waktu bermain, dan kapan waktu belajar. Sisihkan waktu Anda untuk menemani anak belajar. Bila sudah waktunya tidur katakan bahwa ia harus tidur, karena jika tidak, besok bisa bangun kesiangan dan terlambat ke sekolah. Ini akan membantu anak merasa aman dan terlindungi sehingga ia dapat belajar dengan jelas pula, apa yang benar dan yang salah. Jadi, bertindaklah selalu konsisten.

3. Sekali tidak, tetap tidak
Jika Anda berkata “Tidak”, pastikan hal itu benar-benar pernyataan “Tidak”, dan Anda serta pasangan bersepakat bahwa hal itu harus dipatuhi sesuai aturan.
Jangan memberi ancaman hukuman, atau berteriak. Anak ingin mengetahui apa arti “Tidak” dari Anda, yang benar-benar berarti TIDAK. Jadi, jika Anda sudah menerapkan aturan bahwa bermain game hanya boleh hari Sabtu dan Minggu, jangan mudah menyerah bila anak mulai merayu untuk bermain di hari lain.

4. Tak ada rahasia
Biasakan anak untuk tidak pernah menyimpan rahasia. Katakan padanya, menyimpan rahasia akan menimbulkan perasaan tak nyaman atau membingungkan. Hal ini mungkin bisa Anda lakukan lebih dulu, misalnya, katakan, “Tadi Ibu kesal sama ayah, soalnya ayah….” Dengan demikian, anak belajar untuk memahami perasaan ayah dan ibunya. Sebaliknya, anak juga belajar mengungkapkan perasaannya.

sumber : kompas.co.id

Make a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: